Filsafat Toleransi dari Berketuhanan Yang Maha Esa

Ditulis oleh @zidan-syahrul-a

Sumber gambar: https://nalarpolitik.com/posisi-agama-di-indonesia-perspektif-filsafat-kemanusiaan/

Berketuhanan” bisa diartikan percaya adanya Tuhan dan menganut ajarannya. Setiap agama memiliki kebenaran yang bersifat subjektif namun memiliki nilai kebaikan yang universal. Mengutip ungkapan Prof. Dr. (hc). Abdul Ghafur yang mengatakan “Agomo iku noto, apik e koyo opo. Artinya: Agama itu Menata, bagaimana baiknya”, dapat dipahami maknanya bahwa agama merupakan sumber kebaikan dan keindahan.

Semua agama sepakat tentang pentingnya berbuat baik kepada orang lain dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Diantara contohnya seperti Islam dengan konsep sedekah dan zakat, Kristen dengan ajaran “Samaritan yang baik”, konsep “Seva” dari agama sikh yang mana semua itu mengajarkan untuk melakukan sejumlah tindakan kebaikan kepada orang lain, dan masih banyak konsep lainnya.

            Sungguh indah jika ini dipahami oleh semua orang karena dengan memahami persamaan ini, kita dapat bekerja sama untuk menciptakan dunia yang lebih baik, di mana kebaikan dan kasih sayang mendominasi tindakan-tindakan kita, tanpa memandang latar belakang agama atau kepercayaan kita. Namun, masih sering kita menjumpai berbagai permasalahan mengenai bullying agama, Intoleransi, Kekhawatiran Identitas, Perdebatan Etis, Penyebaran Ekstremisme dll. So why?

Berketuhanan Yang Maha Esa: Kemajuan Peradaban

Perlu diketahui bahwa landasan berfilsafat mencakup 3 hal; epistemologi, aksiologi dan ontologi. Begitupun dalam memahami kebaikan setiap agama juga dapat ditinjau dalam 3 aspek, yaitu: Pengetahuan, tindakan dan perasaan. “Pengetahuan” artinya agama itu sumber ilmu pengetahuan. “Tindakan” artinya agama itu mengajarkan cara untuk mengamalkan (melakukan) setelah memperoleh pengetahuan. “perasaan” artinya agama itu mengajarkan bagaimana cara merasakan pengetahuan dan perilaku tersebut. Apakah itu dapat membawa kedamaian dan kebahagiaan hati atau sebaliknya. Secara ideal, Ketiganya (pengetahuan, tindakan, dan perasaan) merupakan pokok yang harus dijalankan secara bersamaan. Karena jika salah satunya tidak diterapkan, maka akan memunculkan berbagai permasalahan.

            Kembali ke permasalahan, bahwa konflik Keagamaan, Diskriminasi dan Intoleransi, Kekhawatiran Identitas, Perdebatan Etis, Penyebaran Ekstremisme itu bisa diindikasikan karena adanya 3 unsur dari pengetahuan, tindakan dan perasaan yang tidak dijalankan secara maksimal. Bisa jadi karena ia kurang memiliki pengetahuan yang utuh mengenai ilmu agamanya. Atau bisa jadi ia tahu ilmunya, namun tidak bisa melaksanakannya sebab masih kalah dengan ego, nafsu dan ambisinya. Atau bisa jadi karena tidak menggunakan perasaannya dalam bertindak. Jadi, berketuhanan yang dimaksud disini adalah pengabdian yang benar seorang hamba kepada tuhannya, atau bisa dikatakan sebuah pengesaan Tuhan.

            Konsep “Tuhan yang Maha Esa” adalah salah satu prinsip fundamental dalam banyak agama dan kepercayaan. Ia mengacu pada keyakinan bahwa ada satu entitas ilahi yang kuasa dan tunggal yang menciptakan dan menguasai alam semesta. Jadi, Tuhan tidak boleh lebih dari satu, meskipun Tuhan menciptakan beragam agama. Hal ini menjadi kebebasan dalam memeluk agama namun jangan mempermainkan Tuhan dengan beragama lebih dari satu. Justru adanya beragam agama ini sebagai pengukur seberapa kepercayaan seorang hamba terhadap agamanya.

            Dalam hal ini, salah satu tokoh toleransi yang menjadi role model resmi di Indonesia ialah gus Dur. Pandangan Gus Dur tentang toleransi agama adalah warisan berharga yang harus dihargai dan diikuti oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Visinya tentang toleransi dan dialog telah membantu membangun kerukunan antar agama dan kebhinekaan di Indonesia. Gus Dur adalah sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa toleransi adalah landasan yang kuat untuk perdamaian dan harmoni dalam masyarakat yang beragam keyakinan agama. Melalui pendidikan, untuk menguatkan pengetahuan, pembuktian ilmu dengan keberanian berdialog antar agama, dan memiliki perasaan cinta yang lebih dalam tentang paham keberagaman menjadikan ia memang pantas sebagai bapak pluralisme Indonesia.

Akhir Kata

              Buah dari berketuhanan yang benar adalah mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa dan mengakui adanya berbagai keanekaragaman cara, keyakinan dan pikiran dalam menghamba kepada tuhannya. Adanya toleransi berketuhanan yang maha esa ini terbukti telah memunculkan cara hidup untuk rukun, saling menghormati, menjaga tanpa harus menimbulkan konflik karena perbedaan yang ada. Dengan memahami persamaan ini, manusia diharapkan dapat bekerja sama untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih maju kedepannya.