Ngaji Surah Al-Ma’un: Sholat, Namun Celaka?

Ditulis Oleh: Abdus Shomad*

Sumber: id.pinterest.com

Kita tahu, sholat merupakan ibadah wajib atau dapat disebut tiang agama bagi umat Islam. Arti kewajibannya menunjukkan batas minimal seorang muslim dalam urusan agamanya. Cukup dengan melakukan kewajiban ini dan tidak melanggarnya, seseorang telah pantas masuk surga Allah yang dijanjikan-Nya sebagai balasan-keridhoan. Sebaliknya, meninggalkan sholat akan menghasilkan suatu dosa, dan balasan-siksa-Nya adalah masuk neraka. Lalu, apa yang membuat seseorang sholat tapi menderita di Akhirat?

Ternyata, demikian juga telah diinformasikan oleh Al-Qur’an, bahwa ada salah satu ayat Al-Qur’an yang menegaskan “penderitaan atau celaka pula akan didapatkan oleh orang-orang yang sholat”. Tepatnya, firman Allah SWT ini terletak dalam (QS. Al-Ma’un :4). Penderitaan yang diperoleh mereka dinarasikan dengan “wail, yaitu dalam ayat:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

“Maka celakalah orang-orang yang sholat”.

Secara tegas, ayat ini membunyikan wail (celaka) yang diperuntukkan bagi orang-orang yang sholat. Dari beberapa literatur tafsir, “wail”memiliki ragam variasi makna. Bagi al-Suyuthi, wail di sini berarti siksa yang amat pedih, syiddah al-‘Adzab. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengartikan wail dengan “siksa”. Dengan nada yang cukup komplit, al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir-nya memaknai kata wail ini dengan kebinasaan, siksa, dan keruntuhan, al-‘Adhab wa al-Halak wa al-Damar.

Ayat ini tidak boleh diberhentikan di situ begitu saja, sehingga melahirkan ambiguitas dengan sejauh yang kita pahami. Maka, perlu dikenalkan perihal seorang mushalli (yang sholat)seperti apa, yang mendapatkan ancaman wail di atas. Sebagai jawaban kejanggalan ini, firman Allah SWT setelahnya membunyikan:

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ. وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ.

“(Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya (5) yang berbuat riya’ (6) dan enggan memberikan bantuan (7).” (QS. Al-Ma’un: 5-7)

Diperjelas oleh ayat ini, “orang-orang yang sholat” pada ayat sebelumnya adalah mereka yang dikategorisasikan ke dalam tiga perilaku tercela yang termaktub di atas.

Pertama, lalai terhadap sholat. Artinya, (QS. Al-Ma’un: 5) mengehendaki kriteria orang yang sholat tapi celaka adalah ia yang lalai terhadap sholatnya. Para pakar tafsir dari kalangan ulama’ memberikan pelbagai penafsiran terkait kata sahun (orang-orang yang lalai) yang dibunyikan di sana. Dalam Tafsir al-Jalalain, ditegaskan bahwa mereka (sahun) ialah orang-orang yang mengakhirkan sholat hingga keluar dari waktunya. Hal ini pula senada dengan komentar-tafsir al-Shabuni dalam karyanya. Al-Shabuni mengimbuhkan “sebab mereka banyak meremehkannya”. Tegasnya pula, mengutip keterangan dari Ibnu Abbas, “Orang-orang yang lalai ialah mereka yang dengan sholatnya tidak mengharap pahala, dan bila meninggalkannya tidak takut akan siksa”.

Selain itu, Abu al-Ma’ali pula mengomentarinya “Orang-orang yang tidak sholat pada waktunya, serta tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. Ungkapan ini disadur oleh Al-Shabuni dari Tafsir Al-Qurthubi yang dicantumkan sebagai penjelasan lanjutan dari perkataan Ibnu Abbas. Pun, keterangan ini semakin kuat dengan argumentasi dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Al-Thabari: “Rasulullah SAW ditanya perihal (QS. al-Ma’un: 5), maka dijawabnya: mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan sholat dari waktunya.”

Dalam al-Tafsir al-Munir, Wahbah Al-Zuhaily menspesifikkan “orang-orang yang lalai” adalah para munafik. Di samping seperti yang dijelaskan, bagi al-Zuhaily mereka (para munafik tadi) hanya sholat sebab riya’ (pamer) kepada orang-orang mukmin bersamanya, dan bila tidak berada di antara orang-orang mukmin, mereka akan sebaliknya atau tidak melaksanakan sholat.

Dalam konteks tafsir sufi, ada sebuah penafsiran lebih mendalam tentang (QS. Al-Ma’un: 4-7). Dari kitab al-‘Iqd al-Nafis fi Nudhumi Jawahir al-Tadris karya Ahmad bin Idris Al-Maghriby, dijelaskan bahwa mereka (sahun) adalah mereka yang sholat namun hatinya tersibukkan dengan selain Allah SWT. Penafsiran al-Maghriby dalam tafsirnya cukup menarik, karena ia sekaligus memberikan sebuah analogi Fiqh tentang konteks sebelumnya. Menurutnya, mereka disama-artikan layaknya orang yang sholat tetapi menghadap kepada selain Ka’bah. Bahkan baggi al-Maghriby,  secara hati yang menghadap kepada Allah SWT lebih utama (berhak) daripada secara fisik menghadap ke ka’bah. Tak heran, Allah SWT mensifati mereka dengan orang-orang yang lupa akan sholatnya.

Syaikh Nawawi al-Bantany pula masih seirama dengan kesepahaman al-Maghriby dalam menafsiri (QS. Al-Ma’un: 4). Dalam Marah al-Labid-nya, ia mengamini akan makna lupa di sana dalam dua pengertian. Pertama, seorang mushalli yang lupa (terhadap Allah SWT) dalam bagian-bagian sholatnya, demikian adalah apa yang kerap dilakukan para mukmin. Kedua, berarti orang yang lupa akan sholatnya hingga meninggalkannya, hal ini termasuk pekerjaan orang kafir.

Kedua, riya’. Ali al-Jurjani dalam al-Ta’rifat-nya mengartikan riya’ dengan “meninggalkan ikhlas atau kemurnian (lillahi ta’ala) dalam beramal sebab melirik pada selain Allah SWT”. Artinya, dia beramal hanya untuk mendapat perhatian para makhluk-Nya. Al-Shabuni mengilustrasikannya dengan orang-orang yang sholat di hadapan manusia agar disebut sebagai orang sholih, orang-orang yang khusyu’ dalam beribadah agar dinamai sebagai orang yang bertaqwa, bersodaqoh agar dikenal sebagai orang yang mulya dan dermawan, dan seterusnya. Segala perbuatan mereka dilakukan hanya lantaran kehendak syahwat ataupun riya’ (pamer). Menurut al-Mahally, fenomena yang diceritkan dalam (QS. Al-Ma’un: 4) tidak hanya dijumpai pada perihal sholat saja, namun juga dalam ibadah atau amal yang lain.

Bahkan lebih menarik, al-Maghriby menyebut riya’ dengan syirik. Dari penjelasannya, ketika seorang mushalli memposisikan riya’ sebagai motiv utama ibadahnya bukan karena Allah SWT, hal ini seolah telah menyekutukan Allah SWT secarahati. Karena amal ibadahnya hanya berdasarkan keinginan riya’ yang tentunya dilandasi oleh gairah syahwat. Sebagaimana firman Allah SWT:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan: 43)

Seperti halnya di atas, ayat ini menunjukkan akan orang-orang yang menjadikan keinginan mereka sebagai tuhan. Sehingga dengan begitu, orang-orang ini seakan telah menjadikan keinginannya sebagai tuhan dan tidak mengesakan Allah SWT. Maka, boleh saja, alasannya ini mendorong al-Maghriby menyebut riya’ adalah syirik.

Ketiga, enggan memberikan bantuan. Dalam arti, adanya ketidakmauan seseorang untuk memberi bantuan atau kemanfaatan kepada selainnya, bahkan sekecil apapun semisal jarum, garam, air dan semacamnya. Hal serupa juga disampaikan oleh al-Mahally dalam tafsirnya. Menurut Mutawalli al-Sya’rawy, memberikan spesifik terkait makna al-ma’un yang dibunyikandalam (QS. Al-Ma’un: 7) ini, bahwa yang dimaksud ialah peralatan rumah yang kerap dipinjam oleh tetangga. Dengan penjelasan yang berlainan, al-Maghriby mengartikannya dengan sebuah wadah. Dengan kata lain, wadah tersebut ialah hati. Jadi, (QS. Al-Ma’un: 7) ini oleh al-Maghriby ditafsirinya dengan orang-orang yang telah mencegah wadah hatinya untuk diisi-dipenuhi dengan ingat kepada Allah SWT.

Dengan begitu, dipahami bahwa semua penjelasan di atas telah memperlihatkan tiga faktor atau tiga alasan yang menjadikan orang sholat namun mendapatkan wail (celaka). Ketiga faktor tersebut telah dijelaskan di atas secara panjang-lebar,yang oleh penulis disarikan dari berbagai literatur tafsir yang memiliki corak masing-masing dan berlainan dalam penafsiran.

Ketiga faktor yang telah dibunyikan surat Al-Ma’un ini secara tegas mengingatkan diri untuk menghindari semua perilaku tercela tersebut. Semuanya dimaksudkan agar diri kita tidak termasuk dari kalangan orang-orang yang sholat tapi mendapatkan celaka. Praktek beribadah maupun berperilaku terhadap diri atau di tengah-tengah masyarakat telah banyak dicontohkan oleh Baginda Rasulillah SAW. Sebagai umatnya, kita seharusnya mensuri-tauladani Rasulullah. Seperti yang telah diketahui, akhlak beliau tidak akan berlainan dari koridor Al-Qur’an (kana khuluquhu al-qur’an), sehingga beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak-karakter melalui keteladanannya (uswah al-hasanah). Wallahu a’lam bisshawab.

Disarikan dari beberapa literatur tafsir Al-Qur’an: Shofwat al-Tafasir, al-Tafsir al-Munir, al-Ta’rifat, al-Jalalain dan Marah al-Labid.

*Mahasiswa Prodi Akhlak dan Tasawuf, semester 1 STAI Al Fithrah Surabaya.

HIKAM.ID

Komunitas HIKAM. Sekolompok mahasantri pesantren Al Fithrah Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *