Kemustahilan dalam Doa

Ditulis Oleh: Ainul Yaqin

Beragam aktivitas manusia tidak dapat dielakkan dari jangkuan dua hak. Hak kepada Tuhannya dan hak kepada sesamanya, bahkan kepada seluruh makhluk. Dalam ajaran Islam, dua hak ini sangat diperhatikan. Hingga, syekh Nawawi al-Banteni al-Jawi menyebutkan “dua pekerti (perbuatan) yang sangat dinilai buruk (keji) ialah syirik kepada Allah Ta’ala dan memberikan bahaya/ancaman kepada sesama”.

            Secara spontanitas, adagium ini berisikan dua hak utama tadi. Karena bagi syekh Nawawi al-Jawi, segala perintah Allah Ta’ala melalui ajaran-ajaran yang dibawa oleh rasul-Nya (Muhammad SAW) – yang seharusnya tidak langgar oleh setiap hamba-Nya bertumpu pada dua hal, yaitu mengagungkan Allah Ta’ala dan bersikap kasih sayang terhadap para makhluk-Nya. Demikian oleh syekh Nawawi melandasinya dengan ayat:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Dan dirikanlah shalat (hak kepada Allah Ta’ala), tunaikanlah zakat (hak kepada sesama manusia)” (QS. Al-Baqarah: 43)

            Barang kali, kalangan akademisi mengartikan dua hak ini dengan sebutan “hubungan vertikal dan hubungan horizontal”. Tanpa melebarkan pembicaraan tentang hubungan horizontal, tidak sedikit dari spesies manusia yang melalaikan dan melanggar undang-undang perihal hubungannya kepada Tuhannya. Sementara, nikmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada para hamba-Nya tidak henti-hentinya tertuangkan. Bahkan kita (termasuk spesies manusia) senantiasa tidak menyadarinya dengan “minimnya bersyukur”.

            Artikulasi “nikmat dan kasih sayang-Nya” tidak hanya sebagai suatu hal yang bersifat materi. Segala yang hanya nampak di mata lahir dan berkarakter fisik, contohnya uang dan kebaikan. Namun, ilustrasinya jauh lebih dari itu. Ringkasnya, tidak hanya yang tampak di mata lahir, pula tidak hanya bernilai indah dan baik.

            Contoh kecil, manusia banyak lalai akan nikmat kesehatan yang dianugerahkan-Nya. Atau banyak lupa dengan nikmat Islam dan iman yang masih dipeluknya. Di sisi lain, apakah setiap hamba-Nya yang berada dalam kesusahan dan ia selalu meminta kepada Tuhannya namun tidak dikabulkan adalah mereka yang dimurkai-Nya? Justru, ada dari sebagian hamba-Nya yang berada dalam kondisi seperti ini dan mereka adalah hamba-hamba yang sangat dikasihi-Nya.

            Tanpa disadari, do’a adalah salah satu dari sekian nikmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Setiap manusia (yang muslim) tanpa terkecuali terus-terang diberikan kesempatan untuk dirinya dapat berharap. Meskipun mereka telah banyak melanggar haknya kepada Allah Ta’ala. Dalam literatur tasawuf, hal ini disebut dengan raja’ atau pengharapan. Istilah ini seringkali disandingkan dengan istilah khauf atau takut.

            Bagi kaum sufi, khauf dan raja’ hendaknya berjalan beriringan, layaknya dua sayap yang saling berkerja sama. Karena seperti yang dituliskan oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqi, khauf tanpa raja’ dapat membuat seseorang putus harapan. Sedang, raja’ tanpa khauf dapat menjadikannya ceroboh dan bermalas-malasan.

            Ringkasnya, seseorang dengan khauf saja (tanpa raja’), akan terus-menerus merasa takut dan sungkan kepada Allah Ta’ala, sehingga ia tidak memiliki harapan atau putus asa. Begitu-pun, seseorang dengan raja’ saja (tanpa khauf), akan senantiasa berharap dan bahkan berlebihan kepada Allah Ta’ala, tanpa rasa takut ataupun sungkan. Hal ini adalah sebuah kecerobohan.

Beralih pada perihal do’a kembali, Ibn ‘Athaillah al-Sakandari telah menawarkan konsep do’a dengan salah satu hikmahnya:

وَلَايَكُن تَاَخُّرُ اَمَدِ العَطَاء مَعَ الاِلحَاح فِي الدُّعَاء مُوجِبًا لِيَاسِكَ, فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الاِجَابَةَ فِيمَا يَختَارُهُ لِنَفسِكَ لَا فِيمَا تَختَارُ لِنَفسِكَ, وَفِي الوَقتِ الَّذِي يُرِيدُ لَا فِي الوَقتِ الَّذِي تُرِيدُ

Tidak diperkenankan, tertundanya sebuah pemberian membuatmu putus asa, meski kau telah mengulang-ulang do’a. Dia (Allah) tetap menjamin untuk mengabulkannya namun sesuai pilihan-Nya bukan menurut pilihanmu sendiri. Juga, pada saat (waktu) yang dikehendaki-Nya bukan yang kau kehendaki”

            Sesuai yang telah dicontohkan, barangkali seseorang yang terus-menerus berdo’a tetapi tidak kunjung dikabulkan adalah dia yang disenangi oleh Allah Ta’ala. Karena mungkin Dia senang dengan hamba tersebut yang terus mengamba dan berdo’a, serta dikhawatirkan ia akan berhenti menghamba tatkala telah dikabulkan do’anya. Barangkali sesuatu yang diharapkan oleh seseorang hanya dinilai baik menurutnya, tapi tidak menurut-Nya. Barangkali tidak dikabulkannya do’a malah merupakan bentuk pengkabulan do’a itu sendiri.

            Seorang hamba tidak selayaknya untuk menuntut pilihan menurutnya kepada Allah Ta’ala. Namun yang patut ialah semua dikembalikan menurut-Nya, bukan menurutnya. Allah Ta’ala lebih mengetahui segala hal. Lalu, yang terpenting bagi seorang hamba ialah tetap percaya kepada-Nya dan jangan sampai berprasangka buruk.

             Akan tetapi, banyak adagium yang sering didengar, kiranya berbunyi “tidak ada yang lebih ampuh selain do’a”. Ada yang lebih mengesan dari itu ialah “mintalah apapun, tidak ada yang mustahil, jika dengan (senjata) do’a”. Namun apakah anggapan-anggapan ini dapat dibenarkan seutuhnya?

            Memang, do’a memiliki kekuatan yang luar biasa. Karena Allah Ta’ala telah berjanji/menjamin untuk mengabulkan setiap yang berdo’a kepada-Nya, seperti yang tersirat dalam QS. Ghafir: 60. Namun seperti yang dijelaskan, seorang hamba tidak dibolehkan berdo’a atau berharap sesuatu yang mustahil atau yang sukar terjadi. Terutama, menuntut pilihan menurut dan kehendaknya (dengan memaksa) dan mengiraukan “pilihan menurut-Nya”.

Dari penjelasan syekh Nawawi al-Jawi, seseorang tidak boleh berdo’a agar seluruh umat muslim diampuni “atas seluruh dosa mereka” atau berdo’a agar seorang fakir/miskin ini memegang uang dua miliar (misalnya), sedang ia tidak memiliki akses yang memungkinkan dan mempermudahkannya untuk mendapatkan uang tersebut.

            Demikian adalah do’a yang tidak diperbolehkan, bahkan menurut syekh Nawawi al-Jawi dibilang bertentangan dengan nash-nash syar’i. Jika dipikirkan, mustahil semua dosa dari seluruh umat muslim boleh diampuni. Jika tidak mustahil (semisal), maka cukup saja hanya diciptakan surga tanpa neraka. Hal ini menyalahi sunnatullah. Sebab, bagaimana dengan neraka yang tidak ada penghuninya dari kalangan manusia?

            Lantas, bagaimana dengan setiap wirid yang biasa dibacakan di setiap setelah shalat maktubah yang berbunyi:

اَستَغفِرُ اللهَ العَظِيم لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِاَصحَابِ الحُقُوقِ الوَاجِبَات عَلَيَّ, وَلِجَمِيعِ المُسلِمِينَ وَالمُسلِمَات وَالمُؤمِنِينَ وَالمُؤمِنَات الاَحيَاءِ مِنهُم وَالاَموَات

            Istighfar atau do’a pengampunan dosa ini (fokus pada redaksi “jami’i al-muslimin….) tetap dibolehkan dan tidak bertentangan dengan yang tadi. Karena do’a ini bermakna “berdoa dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala…untuk seluruh umat muslim, muslimah dan seterusnya atas sebagian dosa mereka”. Tidak sebagaimana yang dilarang di atas, meminta ampunan untuk seluruh umat muslim atas seluruh dosa mereka.

Sumber: Nashaih al-‘Ibad karya syekh Nawawi bin Umar al-banteni al-Jawi dan beberapa kitab lainnya.

Ainul Yaqin

Founder (1) Komunitas HIKAM, mahasantri Ma'had Aly Al Fithrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *